Tema: Kisah kecamatan

  • Kulit bawang di Sumberkledung diolah menjadi pupuk

    Kulit bawang di Sumberkledung diolah menjadi pupuk

    Desa Sumberkledung, Kecamatan Tegalsiwalan. Kulit bawang yang tersisa setelah penanganan hasil panen menjadi bahan sebuah program pelatihan untuk anggota kelompok tani. Laporan tim Universitas Panca Marga menyebut 15 petani ikut berlatih membuat pupuk organik berbentuk bubuk dan cair.

    Kegiatan mencakup praktik pembuatan, pendampingan usaha, dan evaluasi. Penulis melaporkan seluruh peserta mampu membuat produk secara mandiri setelah pelatihan, sementara sebagian mulai mencobanya di lahan. Artikel itu belum membuktikan kenaikan hasil panen akibat pupuk tersebut; yang terdokumentasi ialah keterampilan peserta dan prototipe yang dibuat.

    Baca laporan pengabdian. Foto sampul adalah ilustrasi bawang merah tanpa keterangan lokasi. Foto: Candramawa99 / Wikimedia Commons, CC0 1.0.

  • Sekolah lapang bawang merah di Sumberbulu

    Sekolah lapang bawang merah di Sumberbulu

    Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan. Pada Mei 2025, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya memulai pendampingan bawang merah bersama kelompok Tani Sumber Makmur 1 dan Sumber Makmur 2. Pertemuan awal dipakai untuk memetakan persoalan yang mereka hadapi di lahan.

    Menurut laporan Ketik.com, program dirancang dalam tiga pertemuan. Setelah diskusi dengan petani, agenda berikutnya ialah pengenalan agens hayati untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman dan pelatihan membuat kompos dari limbah pertanian. Laporan tersebut menjelaskan rencana kegiatan, bukan hasil panen atau bukti bahwa seluruh tahap sudah selesai.

    Baca laporan Ketik.com. Foto sampul hanya ilustrasi petani bawang di Kulon Progo. Foto: Arief1802 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

  • Tali mencoba alat penyiram bawang di Sumberbulu

    Tali mencoba alat penyiram bawang di Sumberbulu

    Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan. Dalam laporan ITS pada Oktober 2025, warga bernama Tali membandingkan alat penyiram baru dengan cara yang biasa ia temui: ember membutuhkan tenaga, sementara mesin berbahan bakar bensin dinilainya terlalu besar.

    Tim Laboratorium Tegangan Tinggi ITS bekerja bersama pemerintah desa memasang alat yang lebih kecil, memakai baterai dan stasiun pengisian dengan dukungan panel surya. Mereka juga melatih warga menggunakan dan merawat perangkat tersebut. Ini laporan tentang alat dan tanggapan warga saat kegiatan berlangsung; belum ada data panen sesudah pemasangan yang bisa dipakai untuk menilai hasilnya.

    Baca laporan kegiatan ITS. Foto sampul adalah ilustrasi penyiraman bawang merah di Kulon Progo, bukan dokumentasi kegiatan Tali. Foto: Arief1802 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

  • Mulyadi mencoba mulsa untuk bawang merah di Bulujaran Lor

    Mulyadi mencoba mulsa untuk bawang merah di Bulujaran Lor

    Lokasi: Desa Bulujaran Lor, Kecamatan Tegalsiwalan. Ini kisah dari desa tetangga dalam kecamatan yang sama, bukan dari Desa Tegalsiwalan. TIMES Indonesia melaporkannya pada 22 Maret 2017.

    Mencoba cara tanam yang berbeda

    Mulyadi menanam bawang merah dengan mulsa plastik hitam perak, bahan yang menurut laporan sebelumnya lazim dipakai pada cabai besar. Ia mencoba menerapkannya pada bawang setelah berdiskusi dengan penyuluh pertanian lapangan setempat.

    Mulyadi melaporkan pekerjaan penyiangan, penyiraman, dan pemupukan terasa lebih ringan pada percobaannya. Angka penghematan yang ia sebut adalah pengalaman satu kasus, bukan hasil uji yang bisa langsung diterapkan di semua lahan. Baca laporan lapangan TIMES Indonesia untuk konteks lengkapnya.

    Foto sampul adalah petani bawang merah di Kota Probolinggo, bukan potret Mulyadi atau lahan Bulujaran Lor. Foto: Instalaundry / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.